Catatan : Bardin, Gagassultra.ID
Di Bumi Perkemahan Samparona Baubau, beberapa hari ini telah terukir begitu banyak cerita. Bukan hanya tentang tenda-tenda yang berdiri di antara pepohonan, tetapi tentang anak-anak muda yang belajar, bermain, berkarya, mengenal budaya, dan menemukan arti persaudaraan.
Kemah Budaya bukan sekadar perkemahan. Di dalamnya ada kerja keras panitia yang sejak awal mempersiapkan segala sesuatu dengan penuh tanggung jawab. Ada yang bekerja sejak pagi, memastikan kegiatan berjalan, mengatur perlombaan, mendampingi peserta, hingga tetap bertahan ketika tubuh mulai lelah.
Ada pula perhatian tulus dari orang tua. Di balik setiap peserta yang datang ke Samparona, ada orang tua yang menitipkan doa. Ada bekal yang disiapkan, pesan agar menjaga kesehatan, dan kekhawatiran kecil yang selalu menyertai dari rumah. Sementara para peserta datang membawa semangat dan keceriaan.
Hari-hari mereka diisi dengan berbagai kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Ada lomba kuliner nonberas, tempat kreativitas dan kekayaan pangan lokal diperkenalkan. Ada lomba kebersihan dan kerapian tenda, yang mengajarkan kedisiplinan serta tanggung jawab.
Ada lomba karaoke yang menghadirkan tawa dan kegembiraan. Suara-suara yang mungkin tidak selalu sempurna, tetapi dinyanyikan dengan penuh keberanian dan kebahagiaan.
Ada pula jelajah budaya, membawa peserta lebih dekat dengan warisan leluhur dan kekayaan budaya Buton. Mereka mengenal ‘tula-tula’, cerita dalam bahasa Wolio yang menyimpan pesan dan kearifan dari masa lalu. Mereka juga memainkan berbagai permainan tradisional, permainan yang mungkin sederhana, tetapi sarat dengan nilai kebersamaan, kejujuran, ketangkasan, dan gotong royong.
Di tengah kegembiraan itu, peserta juga mendapatkan bekal untuk masa depan. Ada sosialisasi tentang bahaya narkoba, agar generasi muda mampu menjaga dirinya dari ancaman yang dapat merusak masa depan.
Ada pula informasi tentang beasiswa KIP dan berbagai pengetahuan lainnya yang membuka wawasan bahwa setelah kemah ini berakhir, masih ada perjalanan panjang yang harus mereka tempuh untuk meraih cita-cita. Semua itu menjadikan Kemah Budaya bukan hanya tempat untuk bersenang-senang.
Samparona telah menjadi ruang belajar kehidupan.
Di sana mereka belajar bahwa kebersamaan lebih penting daripada sekadar kemenangan. Bahwa budaya harus dikenal agar tidak dilupakan. Bahwa tradisi harus diwariskan agar tetap hidup. Dan bahwa masa depan harus dipersiapkan sejak hari ini. Namun kini, semuanya hampir berakhir. Tenda-tenda mulai dibongkar.
Barang-barang mulai dikemas
Lapangan yang sebelumnya dipenuhi suara tawa, nyanyian, permainan, dan langkah kaki perlahan mulai kembali sunyi. Para peserta bersiap meninggalkan Samparona. Dan entah mengapa, suasana itu terasa berbeda. Seolah-olah Samparona sedang ‘menangis’, bukan karena hujan.
Tetapi karena harus berpisah dengan anak-anak yang selama beberapa hari telah menghidupkan tempat ini dengan tawa dan semangat mereka.
Pohon-pohon Samparona mungkin akan kembali mendengar suara angin. Lapangan akan kembali lengang. Api unggun akan padam. Tenda-tenda akan hilang. Tetapi jejak cerita mereka akan tetap tinggal. Jejak para panitia yang bekerja tanpa mengenal lelah. Jejak orang tua yang menitipkan doa dan kasih sayang.
Jejak peserta yang berlari dalam permainan tradisional, bernyanyi dalam lomba karaoke, menjaga kebersihan tenda, memasak dengan penuh kreativitas, menjelajah budaya, mendengarkan tula-tula, dan belajar tentang bahaya narkoba serta pentingnya pendidikan.
Semua akan menjadi kenangan
Kelak, ketika mereka tumbuh dewasa dan kehidupan membawa mereka ke tempat yang berbeda-beda, mungkin mereka akan kembali mengingat satu tempat bernama Samparona.
Tempat di mana mereka pernah tertawa bersama. Tempat di mana mereka pernah lelah bersama. Tempat di mana mereka belajar tentang budaya dan persaudaraan.
Tempat di mana untuk beberapa hari, mereka merasa seperti satu keluarga besar. Hari ini mereka meninggalkan Samparona. Tetapi sesungguhnya, mereka tidak pernah benar-benar pergi.
Sebab sebagian kenangan mereka telah tertinggal di antara pepohonan, tanah, tenda, suara nyanyian, permainan tradisional, cerita-cerita budaya, dan hangatnya kebersamaan. Dan mungkin, ketika kendaraan terakhir meninggalkan bumi perkemahan, Samparona akan kembali sunyi.
Namun dalam kesunyiannya, ia menyimpan satu cerita: Tentang anak-anak muda yang pernah datang membawa semangat, lalu pulang membawa pengalaman dan kenangan.Selamat jalan, para peserta Kemah Budaya. Bawalah pulang persaudaraan. Bawalah pulang kecintaan terhadap budaya.
Bawalah pulang semangat untuk meraih cita-cita.
Dan jika suatu hari nanti kalian merasa rindu pada masa-masa itu, ingatlah…
Di Bumi Perkemahan Samparona, pernah ada sebuah cerita indah yang kita tulis bersama.Kemah boleh berakhir. Tenda boleh dibongkar.Tetapi kenangan Samparona akan tetap tinggal di hati.***
